Sabtu, 28 April 2012

Mereka Demi Sesuap Nasi



Jalan Raya Kehidupan



Anak-anak jalanan meminta-minta kepada pengendara jalan yang sedang berhenti di perempatan lalu lintas itu sudah biasa. Caranya pun juga bermacam-macam. Ada yang dengan cara paling sederhana yaitu memasang tampang lemas sambil berkata, “Pak, belum makan tiga hari Pak, kasihani.” Kemudian ada yang dengan cara bernyanyi sambil nggenjreng-nggenjreng gitarnya, atau dengan cara mengelap kendaraan kita dan tidak akan pergi sebelum kita memberinya uang.
Namun, belakangan ini saya menemukan cara anak jalanan untuk mendapatkan sisihan uang dari para pengendara di jalan raya yang menurut saya unik dan tidak biasa, yaitu dengan menggunakan amplop. Ya, amplop, layaknya seorang pencari sumbangan dana untuk pembangunan masjid atau untuk dana sosial lainnya. Si anak jalanan ini menyogohkan selembar amplop kecil yang lecek kepada sang pengendara sambil berharap sang pengendara itu mengambil amplopnya dan mengisinya dengan selembaran uang kemudian mengembalikan amplop yang berisi uang itu kepadanya.
Tetapi menurut saya, hal ini tidak beda jauh sama orang-orang yang berada di atas sana. Maksudnya?
Jadi begini Saudaraku, kalau si anak jalanan tadi menyogohkan amplop itu masih dalam keadaan kosong dan tipis dengan ukurannya yang kecil pula, nah kalo orang-orang yang di atas sana, orang-orang yang kepentingannya sangat banyak dan rumit itu, sering menyogohkan amplop dalam keadaan “berisi” dan tebal dengan ukurannya yang besar pula. Si anak jalanan menyogohkan amplopnya ke pengendara di jalan raya, sedangkan si orang-orang berkepentingan itu menyogohkan amplopnya ke instansi-instansi negara Indonesia Raya.
Sungguh, tampaknya orang-orang yang berkepentingan dan yang dipentingkan di Indonesia ini sudah tak punya malu lagi. Dulu sang berkepentingan dan yang dipentingkan merasa canggung untuk melakukan serah-terima amplop itu sehingga mereka melakukannya di “bawah meja”, tapi sekarang mereka dengan tenangnya dan dengan santainya melakukan serah-terima amplop haram itu di “atas meja”. Kemudian pada akhirnya pun sang berkepentingan mendapatkan kemudahan dalam kepentingannya dan yang dipentingkan pun mendapatkan tambahan rezeki, yang haram pastinya.
Nah Saudaraku, berhubung di negara kita ini banyak sekali orang-orang yang berkepentingan dan banyak pula oknum-oknum dari instansi pemerintah yang menjadi orang yang dipentingkan itu, jadi tidak heran apabila negara kita ini menjadi negara terkorup se-Asia Tenggara. Lalu apa yang harus kita lakukan? Membakar pabrik amplop agar tidak ada lagi kata amplop beserta makna asosiasinya di negeri ini? Oo, tentu bukan itu Saudaraku. Itu adalah ide gila dan tidak masuk akal, jadi jangan lakukan hal itu, tetapi yang perlu kita lakukan hanyalah bertingkah laku jujur. Ya, bertingkah laku jujur kawan.
Jadi, marilah, apa pun kepentingannya, hanya satu jalannya, kejujuran. Dengan jujur, segalanya masih bisa berjalan dengan baik. Butuh biaya lebih mahal? Sadarlah duhai Saudaraku, di akhirat nanti, Anda akan membayarnya berjuta-juta lipat lebih mahal dari amplop yang telah Anda sogohkan itu.