Kamis, 03 Mei 2012
Filosofi Berlian
Berlian Tahukah engkau sebuah berlian???
Semua orang pasti mengenal nama mendambakan barang tapi tidaklah semua orang tau bagaimana bagaimana proses untuk menjadi sebuah berlian.
Asal mula berlian adalah sebongkah bebatuan,yang mana bebatuan itu sering di tendang, di injak,,,,dan tak pernah di hiraukan.Tapi setelah menjalani beberapa proses yang sangat menyakitkan jadilah sebuah batu yang sangat cantik.Mulanya Batu itu harus dipecahkan di pahat di panaskan dalam suhu beratus-ratus derajat Celcius di gosok dan sebagainya.
Setelah melewati beberapa proses itu,barulah menjadi sebuah batu yang amat indah,cantik,di istimewakan semua orang,bahkan di perebutkan.Semua orangpun pastilah ingin memilikinya.
Begitupun dengan perjalanan hidup manusia,kala akan meraih sebuah kesuksesan.Tidaklah sangat mudah menuju kesuksesan.
Jadilah manusia seperti berlian,dimana selalu siaga dan rela menjalani sebuah proses sebelum meraih kemenangan.Menikmati sebuah hasil dengan melewati beberapa proses yang menantang akan lebih memuaskan di banding tanpa usaha sama sekali.
Semua orang akan memperebutkan dan selalu memimpi-mimpikan anda jika anda berjiwa seperti berlian.Dan sangat berbeda halnya jika anda berjiwa bak bebatuan yang belum tersapa oleh tangan-tangan yang gatal dengan sebuah PROSES.
Jangan pernah takut untuk melalui sebuah proses,karena pada akhir sebuah proses pastilah terdapat kemenangan yang bergemilangan.Resapilah kata-kata PROSES.
Jadikanlah jiwa anda seperti berlian-berlian.Yang selalu jadi impian,rebutan,dalam hidup bagi orang yang ingin memilikinya,pancarkanlah cahaya kemilau dari dasar jiwamu,dimana pandangan seseorang yang masih buta,akan tersinari oleh pancaran cahaya kesuksesan yang kau genggam.
Rabu, 02 Mei 2012
Bersyukur karena melihat orang lain susah
sepanjang tahun.
Sedangkan golongan menengah masih dibagi lagi menjadi dua, menengah atas dan
menengah ke bawah. Golongan menengah atas adalah golongan Masyarakat
berdasarkan perekonomiannya dibagi menjadi tiga golongan, yaitu golongan atas,
menengah, dan bawah. Golongan atas adalah golongan yang sudah amat tercukupi
segala kebutuhan, baik primer, sekunder, atau tertiernya, dan tidak akan kere
sepanjang bulan, yang sudah cukup terpenuhi kebutuhannya, pokoknya kebutuhan
utamanya tercukupi sepanjang bulan, sepanjang tahun. Nah, kalo menengah ke
bawah intinya sama seperti golongan menengah ke atas, namun terkadang dilanda
ke-kere-an di akhir bulan. Kasarannya sih begitu.
Masih ada satu
golongan, yaitu golongan masyarakat bawah. Ini yang orang merasa amit-amit
untuk menjadi salah satu bagiannya. Orang-orang berusaha keras untuk tidak
masuk ke dalam golongan ini. Bekerja membanting tulang, mencari pekerjaan yang
bergaji lebih besar, berjualan berkeliling kota, bahkan sampai dengan korupsi
pun tujuannya mungkin untuk tidak masuk dalam golongan ini.
Tapi Tuhan itu
Mahaadil, benar kan? Tuhan menakdirkan sejumlah manusia menempati golongan yang
perekonomiannya sangat rendah itu tak lain untuk membuat kehidupan ini
penuh dengan kesimbangan. Dan patutnya kita bersyukur apabila kita berada dalam
golongan yang lebih baik, atau bahkan jauh lebih baik.
Lalu, jika teringat
kata bersyukur sungguh saya malah menjadi tidak enak hati, merasa serba salah
tepatnya. Sebab apa? Saking seringnya saya melihat pengemis jalanan, melihat
anak-anak jalanan yang kelaparan, melihat orang-orang bertempat tinggal di
kolong-kolong jembatan, melihat kakek-nenek yang berputar mengitari sekitar
kampung rumah saya meminta sedikit rasa iba dari kami para penduduk kampung,
sungguh membuat saya semakin sering juga untuk bersyukur. Lho, bukannya bagus
karena selalu bersyukur? Bukan, bukan itu masalahnya.
Jadi begini, saya
merasa tidak enak karena mereka menjadi objek rasa syukur saya. Oke, mari kita
jabarkan lagi, contohnya seperti ini. Ketika melihat anak jalanan yang putus
sekolah, saya akan berfikir: untunglah dia bukan saya, oleh karena itu saya
patut bersyukur kepada Tuhan karena tidak menakdirkan saya seperti dia. Logis
memang jika pada umumnya manusia berfikir seperti itu, termasuk saya ini
tentunya. Dengan berfikiran seperti itu mungkin manusia akan lebih mudah
mengingat Tuhannya dan akan selalu menebar kebaikan di kehidupan sekitarnya.
Mungkin…
Sering tetangga baik
saya datang ke rumah untuk bercerita dan berkeluh kesah kepada orang tua saya.
Memang tetangga saya itu istilahnya masih rendah tingkat perekonomiannya. Lalu,
setelah tetangga saya itu pulang, orang tua saya secepatnya berpesan kepada
saya, “Tu, kita itu harus bersyukur sama Allah soalnya masih ada yang lebih
susah daripada kita.” Nah kan, jadi kita ini bersyukur karena ada yang lebih
susah daripada kita ya? Atau seharusnya kita itu mensyukuri keadaan kita saat
ini apa adanya? Atau mungkin keduanya? Terlalu banyak tanya rupanya.
Mentok-mentoknya kita
berfikir, jika semua manusia itu bisa bersyukur karena ada yang lebih susah
darinya, lalu bagaimana dengan orang yang paling susah di dunia ini? Pastilah
teramat susah baginya untuk bersyukur. Lengkap lah sudah segala kesusahan di
dalam hidupnya pikir kita. Tapi ternyata tidak kawan.
Orang yang di bawah itu
lebih mudah untuk bersyukur daripada kita yang hidupnya mungkin serba
berkecukupan. Ya, mereka lebih mudah bersyukur daripada kita. Apa yang bisa
mereka syukuri, pasti mereka syukuri, sekecil apa pun kenikmatannya. Sedangkan
kita? Woo, udah punya rumah satu seharga 1M aja masih kurang, beli lagi yang
seharga 2M, itu pun di depan rumahnya masih ditulisi ‘Ngamen Gratis’. Mobil ga
cukup sekeluarga cuma satu, tapi setiap anggota keluarga satu mobil, itu aja
masih lupa sama bayar zakatnya. Edan kalo manusia udah seperti itu. Dan yang
bisa menderita edan kayak gitu siapa? Ya orang-orang yang bergolongan atas itu.
Jadi, sesungguhnya
orang-orang bergolongan bawah yang senantiasa selalu bersyukur itu lebih kaya
daripada orang-orang bergolongan atas yang berlimpah hartanya tetapi tidak
mudah untuk bersyukur, karena pada hakikatnya kekayaan itu ialah seberapa
banyak harta yang kita syukuri keberadaannya. Benar kan?
Tersera kalian
Ahh langit tersera kamulah mau berbicara apa tentang gua sekrang ini,
Aku tak akan peduli dengan senyum pahitmu itu, gua tau sekarang gua
Hanya seperti kamu yang dulu, gelap, serta digelayuti awan kelabu saja,
Di saat kamu merindukan purnamamu dalam penantian, namun gua tau akhir
Dari penantianmu itu , oleh karnanya gua tak akan gentar untuk tetep
Dipuncak gunung ini,
Memikirkannya , melukis keangunannya, meniupkan bisikan kerinduan,
Memunajatkan secerah keinginan, gua yakin!!!
Selasa, 01 Mei 2012
Untuk KAMU para PENGUASA
Wahai bapak ibu guru
yang memiliki kursi kekuasaan di negri ini
sampai kapan kami di bodohi dengan janji-janji palsumu
jangan angkat tanggan karena kami tak angkat topi
tahukah anda
kami menangis
bahkan kami meninggal
setelah mendengar apa yang anda putuskan
kami menangis karena tiada keadilan dibumi pertiwi
kami menderita karena tiada keadilan dibumi pertiwi
kami meninggal karena tiada keadilan dibumi pertiwi
DENGARLAH RINTIHAN KAMI
50;
Langganan:
Postingan (Atom)