Minggu, 14 Oktober 2012

Puisi kemiskinan

Jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin sampai saat ini belum juga terjembatani. Masih sering kudengar dan kubaca berita-berita memilukan tentang kemiskinan. Dalam kemiskinan, sayangnya anak-anaklah yang paling sering menjadi korban penderitanya. Rasanya sudah banyak contoh yang tersebar di sekeliling kita, sehingga tak perlu lagi aku mengambil salah satunya.


Kemiskinan versus kekayaan, dan kekayaan berkorelasi dengan kekuasaan. Mungkin itulah "dalil" yang dipegang pada saat ini. Begitulah jika uang sudah punya kuasa, maka seringkali hati nurani tak berani bicara. Bukankah sudah banyak bukti yang menguatkan "dalil" tersebut di atas ?





Ada satu puisi yang setiap kali aku membacanya, selalu saja aku tak mampu menahan air mata. Sebuah puisi yang dengan gamblang memotret pedihnya kemiskinan yang ada di negeri kita tercinta ini. Semoga saja puisi ini tidak menggambarkan hati kita yang makin asing dengan nurani....


KISAH DARI NEGERI YANG MENGGIGIL
(untuk adinda: Khaerunisa)


Kesedihan adalah kumpulan layang-layang hitam
yang membayangi dan terus mengikuti
hinggap pada kata-kata
yang tak pernah sanggup kususun
juga untukmu, adik kecil


Belum lama kudengar berita pilu
yang membuat tangis seakan tak berarti
saat para bayi yang tinggal belulang
mati dikerumuni lalat karena busung lapar
aku bertanya pada diri sendiri
benarkah ini terjadi di negeri kami?


Lalu kulihat di televisi
ada anak-anak kecil
memilih bunuh diri
hanya karena tak bisa bayar uang sekolah
karena tak mampu membeli mie instan
juga tak ada biaya rekreasi


Beliung pun menyerbu
dari berbagai penjuru
menancapi hati
mengiris sendi-sendi diri
sampai aku hampir tak sanggup berdiri
sekali lagi aku bertanya pada diri sendiri
benarkah ini terjadi di negeri kami?


Lalu kudengar episodemu adik kecil
Pada suatu hari yang terik
nadimu semakin lemah
tapi tak ada uang untuk ke dokter
atau membeli obat
sebab ayahmu hanya pemulung
kaupun tak tertolong


Ayah dan abangmu berjalan berkilo-kilo
tak makan, tak minum
sebab uang tinggal enam ribu saja
mereka tuju stasiun
sambil mendorong gerobak kumuh
kau tergolek di dalamnya
berselimut sarung rombengan
pias terpejam kaku


Airmata bercucuran
peluh terus bersimbahan
Ayah dan abangmu
akan mencari kuburan
tapi tak akan ada kafan untukmu
tak akan ada kendaraan pengangkut jenazah
hanya matahari mengikuti
memanggang luka yang semakin perih
tanpa seorang pun peduli
aku pun bertanya sambil berteriak pada diri
benarkah ini terjadi di negeri kami?


Tolong bangunkan aku, adinda
biar kulihat senyummu
katakan ini hanya mimpi buruk
ini tak pernah terjadi di sini
sebab ini negeri kaya, negeri karya.
Ini negeri melimpah, gemerlap.
Ini negeri cinta


Ah, tapi seperti duka
aku pun sedang terjaga
sambil menyesali
mengapa kita tak berjumpa, Adinda
dan kau taruh sakit dan dukamu
pada pundak ini


Di angkasa layang-layang hitam
semakin membayangi
kulihat para koruptor
menarik ulur benangnya
sambil bercerita
tentang rencana naik haji mereka
untuk ketujuh kalinya


Aku putuskan untuk tak lagi bertanya
pada diri, pada ayah bunda, atau siapa pun
sementara airmata menggenangi hati dan mimpi.


aku memang sedang berada di negeriku
yang semakin pucat dan menggigil


(Abdurahman Faiz, 7 Juni 2005)
Puisi di atas adalah sebuah puisi lama yang mungkin sudah banyak dibaca oleh sahabat blogger. Namun, aku sengaja menyalinnya lagi disini. Alasanku adalah agar kita kembali kepada hati nurani. Selain itu, agar kita dapat belajar dari sang penyair yang meskipun pada saat menulis puisi itu masih berusia 10 tahun, tapi memiliki kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi. Ataukah mungkin anak-anak memang lebih memiliki hati nurani daripada orang dewasa ?

Sabtu, 13 Oktober 2012

Bendera garis organisasiku



Ketika ku kenal kamu ku langsung jatuh cinta
Inilah yang aku cari,
Tempat yang akan mengantarku menjadikan ku seorang yg kritis dan idealis
Di perjalanan waktuu ujian itu datang
Kau yg ku cinta yg telah memberi isi di otakku mulai berubah
Tidak ada lagi ideaisme itu
Tida ada lagi kehangatan canda tawamu ketika aku bercengkrama dengan ilmumu
Semua karena satu hal …..
Keegoisan sang pemimpin
Pemimpin yg terlalu bangga dengan diri nya
Bangga sampai lupa bahwa dia sang pemimpin
Lupa ada yg di pimpin yang menunggu ilmu dan kasih sayang nya
Bukan kasih sayang yg aku dapat , bukan ilmu juga
Tapi keegoisan itu telah menjauhkan ku dg tempat yg aku cinta
Hanya karena ku slalu ekspresikan dan terapkan ilmu yg aku dapat dengan rasa bangga
Apa aku salah????
Aku bangga dan aku tunjukkan kebanggaan memilikimu?
Fordismaku.


gerbang merah putih

Ku langkahkah kaki ku melewati gerbang kampus dengan tekat dan semangat Ini langkah pertamaku 15 september 2012. Putih hitam kini ku kenakan Yang akan mengantarku tuk raih harapanku merah putih …………kampusku Disanalah smua akan aku dapatkan Ilmu yang wajib aku tempuh Orgaisasi yang akan mengasah bakat dan kemampuan yg aku punya Dengan senyum kan ku sonsong smua itu Harapan yg ada kini akan mulai kuraih Semangat yang ada harus terus ada Sampai saat y putih hitam ini kan menjadi hitam dengan toga di kepala Sebagi bukti impian itu telah kuraih

Kamis, 03 Mei 2012

Filosofi Berlian

Berlian Tahukah engkau sebuah berlian??? Semua orang pasti mengenal nama mendambakan barang tapi tidaklah semua orang tau bagaimana bagaimana proses untuk menjadi sebuah berlian. Asal mula berlian adalah sebongkah bebatuan,yang mana bebatuan itu sering di tendang, di injak,,,,dan tak pernah di hiraukan.Tapi setelah menjalani beberapa proses yang sangat menyakitkan jadilah sebuah batu yang sangat cantik.Mulanya Batu itu harus dipecahkan di pahat di panaskan dalam suhu beratus-ratus derajat Celcius di gosok dan sebagainya. Setelah melewati beberapa proses itu,barulah menjadi sebuah batu yang amat indah,cantik,di istimewakan semua orang,bahkan di perebutkan.Semua orangpun pastilah ingin memilikinya. Begitupun dengan perjalanan hidup manusia,kala akan meraih sebuah kesuksesan.Tidaklah sangat mudah menuju kesuksesan. Jadilah manusia seperti berlian,dimana selalu siaga dan rela menjalani sebuah proses sebelum meraih kemenangan.Menikmati sebuah hasil dengan melewati beberapa proses yang menantang akan lebih memuaskan di banding tanpa usaha sama sekali. Semua orang akan memperebutkan dan selalu memimpi-mimpikan anda jika anda berjiwa seperti berlian.Dan sangat berbeda halnya jika anda berjiwa bak bebatuan yang belum tersapa oleh tangan-tangan yang gatal dengan sebuah PROSES. Jangan pernah takut untuk melalui sebuah proses,karena pada akhir sebuah proses pastilah terdapat kemenangan yang bergemilangan.Resapilah kata-kata PROSES. Jadikanlah jiwa anda seperti berlian-berlian.Yang selalu jadi impian,rebutan,dalam hidup bagi orang yang ingin memilikinya,pancarkanlah cahaya kemilau dari dasar jiwamu,dimana pandangan seseorang yang masih buta,akan tersinari oleh pancaran cahaya kesuksesan yang kau genggam.

Rabu, 02 Mei 2012

Bersyukur karena melihat orang lain susah


sepanjang tahun. Sedangkan golongan menengah masih dibagi lagi menjadi dua, menengah atas dan menengah ke bawah. Golongan menengah atas adalah golongan Masyarakat berdasarkan perekonomiannya dibagi menjadi tiga golongan, yaitu golongan atas, menengah, dan bawah. Golongan atas adalah golongan yang sudah amat tercukupi segala kebutuhan, baik primer, sekunder, atau tertiernya, dan tidak akan kere sepanjang bulan, yang sudah cukup terpenuhi kebutuhannya, pokoknya kebutuhan utamanya tercukupi sepanjang bulan, sepanjang tahun. Nah, kalo menengah ke bawah intinya sama seperti golongan menengah ke atas, namun terkadang dilanda ke-kere-an di akhir bulan. Kasarannya sih begitu.
Masih ada satu golongan, yaitu golongan masyarakat bawah. Ini yang orang merasa amit-amit untuk menjadi salah satu bagiannya. Orang-orang berusaha keras untuk tidak masuk ke dalam golongan ini. Bekerja membanting tulang, mencari pekerjaan yang bergaji lebih besar, berjualan berkeliling kota, bahkan sampai dengan korupsi pun tujuannya mungkin untuk tidak masuk dalam golongan ini.
Tapi Tuhan itu Mahaadil, benar kan? Tuhan menakdirkan sejumlah manusia menempati golongan yang perekonomiannya  sangat rendah itu tak lain untuk membuat kehidupan ini penuh dengan kesimbangan. Dan patutnya kita bersyukur apabila kita berada dalam golongan yang lebih baik, atau bahkan jauh lebih baik.
Lalu, jika teringat kata bersyukur sungguh saya malah menjadi tidak enak hati, merasa serba salah tepatnya. Sebab apa? Saking seringnya saya melihat pengemis jalanan, melihat anak-anak jalanan yang kelaparan, melihat orang-orang bertempat tinggal di kolong-kolong jembatan, melihat kakek-nenek yang berputar mengitari sekitar kampung rumah saya meminta sedikit rasa iba dari kami para penduduk kampung, sungguh membuat saya semakin sering juga untuk bersyukur. Lho, bukannya bagus karena selalu bersyukur? Bukan, bukan itu masalahnya.
Jadi begini, saya merasa tidak enak karena mereka menjadi objek rasa syukur saya. Oke, mari kita jabarkan lagi, contohnya seperti ini. Ketika melihat anak jalanan yang putus sekolah, saya akan berfikir: untunglah dia bukan saya, oleh karena itu saya patut bersyukur kepada Tuhan karena tidak menakdirkan saya seperti dia. Logis memang jika pada umumnya manusia berfikir seperti itu, termasuk saya ini tentunya. Dengan berfikiran seperti itu mungkin manusia akan lebih mudah mengingat Tuhannya dan akan selalu menebar kebaikan di kehidupan sekitarnya. Mungkin…
Sering tetangga baik saya datang ke rumah untuk bercerita dan berkeluh kesah kepada orang tua saya. Memang tetangga saya itu istilahnya masih rendah tingkat perekonomiannya. Lalu, setelah tetangga saya itu pulang, orang tua saya secepatnya berpesan kepada saya, “Tu, kita itu harus bersyukur sama Allah soalnya masih ada yang lebih susah daripada kita.” Nah kan, jadi kita ini bersyukur karena ada yang lebih susah daripada kita ya? Atau seharusnya kita itu mensyukuri keadaan kita saat ini apa adanya? Atau mungkin keduanya? Terlalu banyak tanya rupanya.
Mentok-mentoknya kita berfikir, jika semua manusia itu bisa bersyukur karena ada yang lebih susah darinya, lalu bagaimana dengan orang yang paling susah di dunia ini? Pastilah teramat susah baginya untuk bersyukur. Lengkap lah sudah segala kesusahan di dalam hidupnya pikir kita. Tapi ternyata tidak kawan.
Orang yang di bawah itu lebih mudah untuk bersyukur daripada kita yang hidupnya mungkin serba berkecukupan. Ya, mereka lebih mudah bersyukur daripada kita. Apa yang bisa mereka syukuri, pasti mereka syukuri, sekecil apa pun kenikmatannya. Sedangkan kita? Woo, udah punya rumah satu seharga 1M aja masih kurang, beli lagi yang seharga 2M, itu pun di depan rumahnya masih ditulisi ‘Ngamen Gratis’. Mobil ga cukup sekeluarga cuma satu, tapi setiap anggota keluarga satu mobil, itu aja masih lupa sama bayar zakatnya. Edan kalo manusia udah seperti itu. Dan yang bisa menderita edan kayak gitu siapa? Ya orang-orang yang bergolongan atas itu.
Jadi, sesungguhnya orang-orang bergolongan bawah yang senantiasa selalu bersyukur itu lebih kaya daripada orang-orang bergolongan atas yang berlimpah hartanya tetapi tidak mudah untuk bersyukur, karena pada hakikatnya kekayaan itu ialah seberapa banyak harta yang kita syukuri keberadaannya. Benar kan?

Tersera kalian

Ahh langit tersera kamulah mau berbicara apa tentang gua sekrang ini, Aku tak akan peduli dengan senyum pahitmu itu, gua tau sekarang gua Hanya seperti kamu yang dulu, gelap, serta digelayuti awan kelabu saja, Di saat kamu merindukan purnamamu dalam penantian, namun gua tau akhir Dari penantianmu itu , oleh karnanya gua tak akan gentar untuk tetep Dipuncak gunung ini, Memikirkannya , melukis keangunannya, meniupkan bisikan kerinduan, Memunajatkan secerah keinginan, gua yakin!!!

Selasa, 01 Mei 2012

Untuk KAMU para PENGUASA

Wahai bapak ibu guru yang memiliki kursi kekuasaan di negri ini sampai kapan kami di bodohi dengan janji-janji palsumu jangan angkat tanggan karena kami tak angkat topi tahukah anda kami menangis bahkan kami meninggal setelah mendengar apa yang anda putuskan kami menangis karena tiada keadilan dibumi pertiwi kami menderita karena tiada keadilan dibumi pertiwi kami meninggal karena tiada keadilan dibumi pertiwi DENGARLAH RINTIHAN KAMI 50;