sepanjang tahun.
Sedangkan golongan menengah masih dibagi lagi menjadi dua, menengah atas dan
menengah ke bawah. Golongan menengah atas adalah golongan Masyarakat
berdasarkan perekonomiannya dibagi menjadi tiga golongan, yaitu golongan atas,
menengah, dan bawah. Golongan atas adalah golongan yang sudah amat tercukupi
segala kebutuhan, baik primer, sekunder, atau tertiernya, dan tidak akan kere
sepanjang bulan, yang sudah cukup terpenuhi kebutuhannya, pokoknya kebutuhan
utamanya tercukupi sepanjang bulan, sepanjang tahun. Nah, kalo menengah ke
bawah intinya sama seperti golongan menengah ke atas, namun terkadang dilanda
ke-kere-an di akhir bulan. Kasarannya sih begitu.
Masih ada satu
golongan, yaitu golongan masyarakat bawah. Ini yang orang merasa amit-amit
untuk menjadi salah satu bagiannya. Orang-orang berusaha keras untuk tidak
masuk ke dalam golongan ini. Bekerja membanting tulang, mencari pekerjaan yang
bergaji lebih besar, berjualan berkeliling kota, bahkan sampai dengan korupsi
pun tujuannya mungkin untuk tidak masuk dalam golongan ini.
Tapi Tuhan itu
Mahaadil, benar kan? Tuhan menakdirkan sejumlah manusia menempati golongan yang
perekonomiannya sangat rendah itu tak lain untuk membuat kehidupan ini
penuh dengan kesimbangan. Dan patutnya kita bersyukur apabila kita berada dalam
golongan yang lebih baik, atau bahkan jauh lebih baik.
Lalu, jika teringat
kata bersyukur sungguh saya malah menjadi tidak enak hati, merasa serba salah
tepatnya. Sebab apa? Saking seringnya saya melihat pengemis jalanan, melihat
anak-anak jalanan yang kelaparan, melihat orang-orang bertempat tinggal di
kolong-kolong jembatan, melihat kakek-nenek yang berputar mengitari sekitar
kampung rumah saya meminta sedikit rasa iba dari kami para penduduk kampung,
sungguh membuat saya semakin sering juga untuk bersyukur. Lho, bukannya bagus
karena selalu bersyukur? Bukan, bukan itu masalahnya.
Jadi begini, saya
merasa tidak enak karena mereka menjadi objek rasa syukur saya. Oke, mari kita
jabarkan lagi, contohnya seperti ini. Ketika melihat anak jalanan yang putus
sekolah, saya akan berfikir: untunglah dia bukan saya, oleh karena itu saya
patut bersyukur kepada Tuhan karena tidak menakdirkan saya seperti dia. Logis
memang jika pada umumnya manusia berfikir seperti itu, termasuk saya ini
tentunya. Dengan berfikiran seperti itu mungkin manusia akan lebih mudah
mengingat Tuhannya dan akan selalu menebar kebaikan di kehidupan sekitarnya.
Mungkin…
Sering tetangga baik
saya datang ke rumah untuk bercerita dan berkeluh kesah kepada orang tua saya.
Memang tetangga saya itu istilahnya masih rendah tingkat perekonomiannya. Lalu,
setelah tetangga saya itu pulang, orang tua saya secepatnya berpesan kepada
saya, “Tu, kita itu harus bersyukur sama Allah soalnya masih ada yang lebih
susah daripada kita.” Nah kan, jadi kita ini bersyukur karena ada yang lebih
susah daripada kita ya? Atau seharusnya kita itu mensyukuri keadaan kita saat
ini apa adanya? Atau mungkin keduanya? Terlalu banyak tanya rupanya.
Mentok-mentoknya kita
berfikir, jika semua manusia itu bisa bersyukur karena ada yang lebih susah
darinya, lalu bagaimana dengan orang yang paling susah di dunia ini? Pastilah
teramat susah baginya untuk bersyukur. Lengkap lah sudah segala kesusahan di
dalam hidupnya pikir kita. Tapi ternyata tidak kawan.
Orang yang di bawah itu
lebih mudah untuk bersyukur daripada kita yang hidupnya mungkin serba
berkecukupan. Ya, mereka lebih mudah bersyukur daripada kita. Apa yang bisa
mereka syukuri, pasti mereka syukuri, sekecil apa pun kenikmatannya. Sedangkan
kita? Woo, udah punya rumah satu seharga 1M aja masih kurang, beli lagi yang
seharga 2M, itu pun di depan rumahnya masih ditulisi ‘Ngamen Gratis’. Mobil ga
cukup sekeluarga cuma satu, tapi setiap anggota keluarga satu mobil, itu aja
masih lupa sama bayar zakatnya. Edan kalo manusia udah seperti itu. Dan yang
bisa menderita edan kayak gitu siapa? Ya orang-orang yang bergolongan atas itu.
Jadi, sesungguhnya
orang-orang bergolongan bawah yang senantiasa selalu bersyukur itu lebih kaya
daripada orang-orang bergolongan atas yang berlimpah hartanya tetapi tidak
mudah untuk bersyukur, karena pada hakikatnya kekayaan itu ialah seberapa
banyak harta yang kita syukuri keberadaannya. Benar kan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar