Rabu, 02 Mei 2012

Bersyukur karena melihat orang lain susah


sepanjang tahun. Sedangkan golongan menengah masih dibagi lagi menjadi dua, menengah atas dan menengah ke bawah. Golongan menengah atas adalah golongan Masyarakat berdasarkan perekonomiannya dibagi menjadi tiga golongan, yaitu golongan atas, menengah, dan bawah. Golongan atas adalah golongan yang sudah amat tercukupi segala kebutuhan, baik primer, sekunder, atau tertiernya, dan tidak akan kere sepanjang bulan, yang sudah cukup terpenuhi kebutuhannya, pokoknya kebutuhan utamanya tercukupi sepanjang bulan, sepanjang tahun. Nah, kalo menengah ke bawah intinya sama seperti golongan menengah ke atas, namun terkadang dilanda ke-kere-an di akhir bulan. Kasarannya sih begitu.
Masih ada satu golongan, yaitu golongan masyarakat bawah. Ini yang orang merasa amit-amit untuk menjadi salah satu bagiannya. Orang-orang berusaha keras untuk tidak masuk ke dalam golongan ini. Bekerja membanting tulang, mencari pekerjaan yang bergaji lebih besar, berjualan berkeliling kota, bahkan sampai dengan korupsi pun tujuannya mungkin untuk tidak masuk dalam golongan ini.
Tapi Tuhan itu Mahaadil, benar kan? Tuhan menakdirkan sejumlah manusia menempati golongan yang perekonomiannya  sangat rendah itu tak lain untuk membuat kehidupan ini penuh dengan kesimbangan. Dan patutnya kita bersyukur apabila kita berada dalam golongan yang lebih baik, atau bahkan jauh lebih baik.
Lalu, jika teringat kata bersyukur sungguh saya malah menjadi tidak enak hati, merasa serba salah tepatnya. Sebab apa? Saking seringnya saya melihat pengemis jalanan, melihat anak-anak jalanan yang kelaparan, melihat orang-orang bertempat tinggal di kolong-kolong jembatan, melihat kakek-nenek yang berputar mengitari sekitar kampung rumah saya meminta sedikit rasa iba dari kami para penduduk kampung, sungguh membuat saya semakin sering juga untuk bersyukur. Lho, bukannya bagus karena selalu bersyukur? Bukan, bukan itu masalahnya.
Jadi begini, saya merasa tidak enak karena mereka menjadi objek rasa syukur saya. Oke, mari kita jabarkan lagi, contohnya seperti ini. Ketika melihat anak jalanan yang putus sekolah, saya akan berfikir: untunglah dia bukan saya, oleh karena itu saya patut bersyukur kepada Tuhan karena tidak menakdirkan saya seperti dia. Logis memang jika pada umumnya manusia berfikir seperti itu, termasuk saya ini tentunya. Dengan berfikiran seperti itu mungkin manusia akan lebih mudah mengingat Tuhannya dan akan selalu menebar kebaikan di kehidupan sekitarnya. Mungkin…
Sering tetangga baik saya datang ke rumah untuk bercerita dan berkeluh kesah kepada orang tua saya. Memang tetangga saya itu istilahnya masih rendah tingkat perekonomiannya. Lalu, setelah tetangga saya itu pulang, orang tua saya secepatnya berpesan kepada saya, “Tu, kita itu harus bersyukur sama Allah soalnya masih ada yang lebih susah daripada kita.” Nah kan, jadi kita ini bersyukur karena ada yang lebih susah daripada kita ya? Atau seharusnya kita itu mensyukuri keadaan kita saat ini apa adanya? Atau mungkin keduanya? Terlalu banyak tanya rupanya.
Mentok-mentoknya kita berfikir, jika semua manusia itu bisa bersyukur karena ada yang lebih susah darinya, lalu bagaimana dengan orang yang paling susah di dunia ini? Pastilah teramat susah baginya untuk bersyukur. Lengkap lah sudah segala kesusahan di dalam hidupnya pikir kita. Tapi ternyata tidak kawan.
Orang yang di bawah itu lebih mudah untuk bersyukur daripada kita yang hidupnya mungkin serba berkecukupan. Ya, mereka lebih mudah bersyukur daripada kita. Apa yang bisa mereka syukuri, pasti mereka syukuri, sekecil apa pun kenikmatannya. Sedangkan kita? Woo, udah punya rumah satu seharga 1M aja masih kurang, beli lagi yang seharga 2M, itu pun di depan rumahnya masih ditulisi ‘Ngamen Gratis’. Mobil ga cukup sekeluarga cuma satu, tapi setiap anggota keluarga satu mobil, itu aja masih lupa sama bayar zakatnya. Edan kalo manusia udah seperti itu. Dan yang bisa menderita edan kayak gitu siapa? Ya orang-orang yang bergolongan atas itu.
Jadi, sesungguhnya orang-orang bergolongan bawah yang senantiasa selalu bersyukur itu lebih kaya daripada orang-orang bergolongan atas yang berlimpah hartanya tetapi tidak mudah untuk bersyukur, karena pada hakikatnya kekayaan itu ialah seberapa banyak harta yang kita syukuri keberadaannya. Benar kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar